Rabu, 31 Maret 2021

Novel Ramah Perbedaan tanpa Mengaburkan Keyakinan

Perjalanan kepenulisan seorang Azzura Dayana bisa dibilang sudah cukup panjang. Ia lahir dari seleksi editor satu penerbitan ke penerbitan lainnya. Sesekali juga teruji lewat kompetisi menulis berskala nasional. Bahkan novel pertamanya, Alabaster, adalah pemenang III Sayembara Novel Islami Gema Insani tahun 2004.

Awal tahun 2021 ini, Azzura kembali menerbitkan novelnya yang juga hasil kompetisi. Novel I Love View (ILV) adalah peraih Special Award pada Kompetisi Menulis Indiva 2020.

Bagi pembaca karya Azzura tentu sudah bisa menebak kekhasan setiap novelnya. Perjalanan. Baik perjalananan fisik dan bisa pula perjalanan batin. Seperti penuturan penulisnya saat bedah novel ILV yang dilaksanakan oleh FLP Wilayah Sumsel pada Februari lalu bahwa bagi seorang penulis sebisa mungkin mengabadikan setiap perjalanannya dalam karya. Ini adalah sumber ide yang potensial dituliskan.


Begitulah ILV lahir dari
traveling penulisnya ke dua negara tetangga. Singapura dan Malaysia. Meski ada beberapa tempat dalam novel yang pada faktanya belum dikunjungi secara langsung, setidaknya secara umum, Azzura bisa menangkap 'aura' latar tempat di novelnya. Bagi saya, ini salah satu keunggulan ILV. Mampu mendeskripsikan tak hanya deretan nama-nama tempat wisata tetapi juga menghadirkan rasa pada tiap tempat yang disinggahi.  Bukan sekadar buku panduan wisata.

Hal yang juga istimewa adalah kemampuan penulis menjalinan tiap adegan menjadi alur penuh kejutan. Nyaris tidak ada kejadian yang terlewat begitu saja. Tone bercerita terasa cepat dan padat. Anti bosan.

Namun demikian, setelah menyelesaikan ILV, saya langsung teringat Altitude 3159: Miquelii. Novel dari penulis yang sama yang terbit selang satu tahun sebelumnya (September 2019) Kedua novel ini mengisahkan seorang perempuan dewasa yang melakukan perjalanan ke suatu tempat karena sedang mengalami permasalahan.

Karena persamaan premis ini, saya menilai secara umum ILV dan Altitude 3159 relatif sama. Hal ini sangat mungkin terjadi karena proses penulisannya hampir berdekatan waktu. Terlebih ILV memang harus diselesaikan mengikuti jadwal deadline lomba. Jika saja dijeda sedikit lebih lama, mungkin ada ide segar untuk I Love View.

Di luar konten novel, tampilan novel juga menjadi perhatian pembaca secara keseluruhan. Seperti yang pernah saya tulis di ulasan singkat pada akun instagram bahwa cover novel setebal 231 hslaman ini juara. Kesan feminis dan elegan begitu kuat  menyapa pembaca. Really, I Love It!

Sayangnya desain isi tidak cukup nyaman. Pilihan ukuran font huruf nampaknya terlalu besar. Karena ini novel dewasa, bukan buku cerita anak, mungkin bisa lebih dipadatkan tampilannya.  

“Lihatlah. Segalanya dengan cepat berubah. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah, persiapkan hatimu. Aku tahu Seon baik. Dan dia sangat perhatian padamu. Dia juga toleran. Tapi, dia belum melihatmu yang sekarang. Kamu berbeda.” (hlm. 228)

Dengan plus-minus-nya ILV, saya sebenarnya sangat terkesan dengan ending yang ditawarkan penulis. Perbedaan keyakinan antar tokoh bisa dikemas apik tanpa memberi kesan menyinggung SARA. Di tengah gencarnya isu toleransi, literasi Indonesia butuh lebih banyak karya yang ramah perbedaan tanpa mengaburkan makna istiqomah.  Selamat!***


Identitas Buku

Judul buku: I Love View

Penulis: Azzura Dayana

Penerbit: Indiva Media Kreasi

Halaman: 231 hlm.

Harga: Rp.65.000,-


Share:

Sabtu, 28 November 2020

Mendampingi Anak Belajar di Era Pandemi


Tahun ajaran baru 2020/2021 hampir rampung pada semester pertama. Itu artinya sudah lebih dari empat bulan anak-anak melakukan pembelajaran jarak jauh.

Tentu saja ada kesan berbeda yang dirasakan anak. Terlebih bagi anak yang tahun ini adalah tahun pertama masuk sekolah. Atau belum ada pengalaman sebelumnya merasakan pergi ke sekolah. 

Kesan yang berbeda juga dirasakan orang tua. Tantangan mendampingi anak belajar di era pandemi akan menjadi pengalaman luar biasa. Karena bagaimanapun juga keterlibatan orang tua sangat dirasakan saat ini. 

Berbahagia sekali saya di hari ini diberi kesempatan oleh TKIT Bina Ilmi Lemabang berbagi pengalaman dengan para orang tua siswa dan guru dalam proses pendampingan belajar anak. 

Jadi memang pola pembelajaran di era pandemi BERBEDA dengan pola pembelajaran di era normal.

Ada beberapa perbedaannya, yakni:

1. Interaksi dengan sekolah dan semua civitas akademika (teman, guru, pegawai, pedagang, wali siswa, dll.)

Ketika anak pergi ke sekolah maka ia akan menjumpai dan bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang sosial dan usia. 

Semakin luas lingkup interaksinya tentu membawa pengalaman semakin banyak pada anak.

Ini yang dirasakan jika anak pergi ke sekolah. Sementara di era pandemi yang mengharuskan belajar di rumah serta sesekali saja atau untuk kepentingan sangat mendesak bisa datang ke sekolah, interaksi dengan segenap civitas akademika tidak dirasakan anak.

2. Pengalaman sosial sepanjang pergi dan pulang sekolah

Misalnya anak yang diantar orang tua ke sekolah dengan menggunakan transportasi umum, ia akan melihat atau berinteraksi dengan bermacam orang. Bisa sopir angkot, sopir online, pramugara, dan sebagainya. 

Anak yang diantar orang tua menggunakan kendaraan pribadi, mungkin akan bertemu petugas pom bensin, penjual koran, petugas parkir, pengemis dan sebagainya. 

Nah, pengalaman sosial ini sejatinya mampu memperkaya wawasan anak serta menumbuhkan empati. Namun lagi-lagi pengalaman ini didapat ketika anak pergi ke sekolah.

3. Memanfaatkan tehnologi 

Dikarenakan tidak memungkinkan bertatap muka maka fasilitas tehnologi digunakan. Tentu saja ini harus cepat dikusai khususnya bagi orang tua dan guru. 

Tujuannya agar proses pembelajaran tetap dapat dilakukan meski dengan segala keterbatasannya. 

4. Kegiatan di luar jam sekolah

Meskipun siswa TK belum memiliki kegiatan ekstrakurikuler seperti siswa SD dan seterusnya, ada kegiatan non formal yang biasa dijalani anak ketika sekolah secara normal. 

Misalnya bermain bersama teman sebelum masuk kelas. Atau melakukan aktifitas bersama karena kebetulan belum dijemput pulang oleh orang tua. 

Berbagai perbedaan di atas akan menjadi sumber masalah tersendiri bila tidak segera dicari solusinya. Minat anak untuk sekolah menjadi pertimbangan penting.

Pendampingan Orang tua

Mungkin kita semua masih ingat ketika di awal pandemi sekitar bulan Maret dan April. Banyak pihak yang merasa kaget. Kelelahan fisik dan psikis sehingga menyebabkan saling menyalahkan.

Guru dipusingkan dengan mencari metode pembelajaran.

Orang tua dipusingkan dengan media pembelajaran yang beralih ke virtual.

Pihak sekolah bingung menerapkan kebijakan. 

Namun, semakin ke sini, kondisi pembelajaran sudah semakin membaik. Berbagai adaptasi sudah dilakukan. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, semua pihak juga sudah mulai menikmati pola pembelajaran di era pandemi.

Ada beberapa hal mendasar yang penting disadari orang tua agar dapat nyaman mendapingi anak di masa sekarang

1. Memahami kondisi ini darurat. Sadari bahwa tidak ada seorang pun atau pihak manapun yang menginginkan keadaan seperti sekarang yakni pembatasan aktifitas di luar rumah termasuk bersekolah.

2. Memahami perbedaan pola pembelajaran. Karena kondisi berbeda maka cara yang dilakukan juga berbeda. Tidak bisa lagi misalnya orang tua mengantar anak ke sekolah lalu setelahnya bisa dengan tenang bekerja. Sekarang anak bersekolah dari rumah dan harus didampingi. 

3. Menerima dan berhenti mengeluhkan kondisi. Penerimaan akan membuat perasaan orang tua lebih ringan. Bahwa semua orang tua juga mengalami hal yang sama. 

4. Mencari cara paling nyaman antara anak dan orang tua. Karakter tiap anak berbeda. Dibutuhkan pendekatan yang juga berbeda. Gaya belajar anak juga tidak sama. Dan orang tua wajib mengetahui semua hal tentang anak sebagai referensi menentukan kondisi paling santai ketika menjalani proses pembelajaran. 

Contoh kecilnya adalah untul bangun pagi karena jadwal sekolah virtualnya pagi. Ada anak yang bisa bangun hanya diberi tahu akan sekolah. Ada juga yang butuh waktu bermain sebentar sebelum mandi, dan sebagainya. 

Fakta di lapangan ketika melakukan pendampingan

Mencoba kebiasaan baru memang tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Begitu pula orang tua yang mendampingi anak belajar.

1. Keterbatasan waktu orang tua, terlebih bagi yang kedua orang tuanya bekerja di luar rumah. 

Ini bisa diantisipasi dengan membuat kesepakatan orang tua (ayah dan ibu) serta anak. Termasuk juga pembagian peran. 

Misalnya karena ibu waktu di pagi hari lebih fleksibel maka yang menemani pertemuan di kelas virtual Ibu. Sementara ayah akan mendampingi pemgerjaan tugas rumah atau proyek anak.

Kalau ternyata ayah dan ibu benar-benar kesulitan waktu di kelas virtual anak, coba didelegasikan pendampingan pada keluarga lainnya. Bisa nenek-kakek, saudara yang lebih tua, atau lainnya. Bahkan bisa juga mengupayakan pergantian jam kerja ayah atau ibu.

2. Penguasaan tehnologi dan ketersediaan sarana prasarana media daring

Seperti di bahas di awal bahwa tehnologi banyak dimanfaatkan ketika proses pembelajaran jarak jauh. 

Baik guru maupun orang tua diharapkan dapat cepat belajar dan beradabtasi dengan penggunaan berbagai tehnologi. Beberapa aplikasi yang dominan dipakai misalnya google meeting, zoom meeting, video call untuk pertemuan.  Ada juga kine master, picart, power point, snapsheet dan lainnya untuk media pembelajaran.

Meluangkan waktu dan dana untuk mempelajari berbagai perangkat dan aplikasi tersebut. Termasuk juga perangkat kerasnya semisal menggunakan headset, tripot, tongsis, dan lainnya. 

Selain belajar otodidak, bisa melalui berbagai pelatihan atau workshop yang banyak di selenggarakan berbagai pihak. 

Saling diskusi dan berbagi pengalaman dengan sesama wali murid bisa juga dilakukan. Hal yang paling sederhana misalnya tehnis penyimpan data video pembelajaran agar rapi namun tidak memenuhi ruang penyimpanan. 

4. Motivasi belajar anak

Akan sangat wajar anak usia TK kisaran 5 dan 6 tahun masih labil dengan emosinya. Bisa jadi sangat antusias. Lain kesempatan malas dan mogok belajar. Terlebih pertemuan kelas menggunakan 'hanya' sekadar video call. 

Kondisi ini bisa diantisipasi dengan kreativitas orang tua dan guru. Ciptakan suasana yang sama meriah dan menyenangkan seperti di ruang kelas sekolah. Membuat kesepakatan dengan anak terkait jadwal bermain, makan, serta istirahat. 

Guru juga bisa membantu membuat anak termotivasi belajar misalnya dengan mengunakan kostum lucu dan mencuri perhatian anak ketika kelas virtual. Lalu mengembalikan konsentrasi anak lewat  berbagai permainan atau ice breaking. 

Intinya anak usia TK masih sangat tergantung dengan keberadaan orang tuanya. Guru di sekolah sebisa mungkin membuat anak nyaman sebagaimana orang tua. Proses peralihan orientasi dari orang tua ke guru perlahan dinikmati anak lewat belajar di sekolah meski secara virtual. 

Akhirnya, semoga kondisi pandemi semakin membuka ruang kedekatan anak dan orang tua lewat belajar dari rumah. Juga membuka ruang kreatifitas guru agar anak tetap mendapat kesan sekolah adalah pengalaman menyenangkan.



#sesiparenting #pendampingananak #kerjasmaorangtuaguru #sekolahmenyenangkan


 

Share:

Selasa, 10 November 2020

Sepatu Boots dan Kisah Masa Kecilku

Lahir sebagai anak sulung dan tinggal di daerah cukup jauh dari kota membuat saya merasa puas menjelajah alam. Saya lahir di daerah yang terkenal dengan cadangan batubara berlimpah. Tanjung Enim. Bahkan perusahaan pengolahan batubara pun berdiri di sini. 

Saya masih ingat saat ikut ibu ke pasar. Setiap pulang dapat dipastikan kaki kami berdebu dan berwarna hitam akibat melewati hamparan luas batubara. Kebutuhan memasak juga menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. 

Diluar keberkahan tinggal di daerah penghasil batubara, ada juga cerita sedihnya. Areal makam kakek dan nenek saya sempat dikabarkan akan dibongkar karena akan diambil batubara yang ada didalamnya. 


Tetapi itu semua tidak terlalu merisaukan. Sebab sebagai anak-anak, saya sudah merasa bahagia jika bisa menghabiskan banyak waktu untuk bermain. 

Hanya berkelang sebuah kebun, dibelakang rumah kami terdapat aliran sungai. Tidak terlalu besar memang. Namun sangat memanjakan anak-anak di sekitarnya. Airnya sangat bening. Udang yang berenang di sela batu pun dapat terlihat. Debit airnya rendah. Banyak bebatuan besar dan kecil sepanjang sungai. Airnya sangat sejuk. 

 Setiap sore anak-anak selalu ramai di sungai. Beberapa orang dewasa juga mandi dan mencuci di sungai. Bagi anak yang bernyali, ia akan terjun dari tempat tinggi sebelum berenang. Sayangnya, saya tidak pernah berani melakukannya. Saya cukup berjalan pelan menuju air sungai yang setinggi pinggang. Tidak lebih dalam dari itu. Boleh jadi inilah alasan hingga sekarang saya tidak bisa berenang. 

Selain bermain air, di sungai ini, saya dan teman-teman suka mencari udang, ikan dan kepiting. Biasanya kami menggunakan serokan kecil untuk menangkap buruan. 

Aktifitas di sungai hanya boleh dilakukan saat sungai surut. Sebab saat musim penghujan atau volume air meningkat, tidak ada orang tua yang mengizinkan anaknya bermain di sungai. 

Luas sungai mungkin sekitar 10 meter. Sementara panjangnya saya tidak pernah tahu. Menurut orang-orang tua, sungai tersebut akan terhubung dengan sungai muara enim.


Untuk menghubungkan sebelah kanan dan sebelah kiri dibangun sebuah jembatan melintas di atas sungai. Jembatan ini terbuat dari lempengan seng bekas. Setahu saya, jembatan tersebut sudah ada sebelum saya lahir. Entah siapa yang memberi nama. Jembatan ini dikenal dengan jerambah gombreng karena saat dilintasi orang, akan mengeluarkan bunyi gombreng-gombreng karena seng yang bersentuhan.

Lapangan bola kaki ada di seberang sungai. Maka setiap jadwal pertandingan bola, kami akan berduyun-duyun melewati jerambah gombreng. 

 Selain lapangan bola, tidak ada rumah penduduk disana. Yang ada kebun masyarakat sekitar. Seperti paman saya yang memiliki kebun sayuran. Sesekali saya ikut ke kebun paman. 

Ketika melihat paman memakai sepatu boots ke kebun, membuat saya juga ingin memiliki sepatu boots. Dalam penilaian saya, seseorang yang memakai sepatu boots terlihat lebih gagah.  

Tentu saja ibu saya harus menyisihkan uang belanja beberapa hari demi membelikan sepatu boots. Sampai akhirnya sebuah sepatu boots anak-anak berwarna biru berhasil dibeli ibu. Di suatu sore, saat pertandingan bola di lapangan, saya memakai sepatu boots tersebut. 

Sorak sorai penonton memberi semangat pada pemain. Anak-anak yang hanya tahu 'gol' juga ikut bersorak. Pertandingan seru. Hampir penuh selingkaran lapangan, para penonton duduk menyaksikan. 

Hampir magrib saat pertandingan usai. Semua bubar, penonton dan pemain. Dan semua akan melewati jerambah gombreng. Saya dituntun ibu melewati jembatan. Suara gombreng tak berhenti. Saling bersahutan. 

Meski sudah biasa melewatinya, banyak orang yang juga lewat jembatan menbuat saya sedikit takut. 'Nanti jembatannya putus," demikin pikiran saya. 

"Buuu... sepatuku jatuh!" Teriak saya seraya pandangan tak lepas dari sepatu boods yang terjatuh. 

"Waduh, sepatunya nganyut," kini ibu yang panik. Bapak yang dapat komando langsung berupaya menyelamatkan. Arus sungai yang cukup deras menyulitkan Bapak untuk mendapatkan kembali sepatuku.

Berakhir sudah kisah sepatu boots. Hanya satu kali itu saya memakainya. Namun kenangannya hingga puluhan tahun tidak terlupakan. 


Share:

Rabu, 29 Juli 2020

Ibadah Kurban Bukti Ajaran Islam Moderat

Salah satu ibadah tahunan bagi umat Islam adalah berkurban. Pada prinsipnya berkurban hampir sama dengan ibadah maaliyah (harta) lainnya. Seperti sadaqah, infaq, maupun zakat. Namun setiap ibadah tersebut memiliki ketentuan masing-masing.



Berdasarkan sejarah, berkurban diawali dari peristiwa Nabi Ibrahim as. yang mendapat ujian dari Allah untuk 
menyembelih anaknya, Ismail.

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Hal ini diabadikan dalam Al-Qur'an surat  As  Saffat ayat 102. Dan kemudian diperintahkan untuk berkurban kepada umat Islam sebagai wujud kepatuhan paripurna kepada Allah.

Dalam QS Al-Kautsar ayat 2 yang artinya: "Maka kerjakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”

Sebagian besar ulama fiqih, menyatakan bahwa hukum berkurban sunat muakkad. Artinya perintah yang sangat dianjurkan namun belum sampai wajib. Itu pun tidak untuk semua orang melainkan bagi siapa yang mampu. 

Ada hal yang juga unik dalam pada setiap ibadah maaliyah. Bahwa Islam mengajarkan untuk tidak menjadikan harta sebagai penghalang dalam beribadah. Kecendrungan manusia mencintai harta yang dimiliki harus tetap tunduk pada ketaatan pada Allah. 

Akan tetapi, Islam memerintahkan untuk menjaga harta. Termasuk lima hal yang menjadi kebutuhan manusia dan harus
dijaga atau dharûriyyâtul-khamsy yakni jiwa, keluarga, agama, akal serta harta. 

Di dua kondisi inilah, membuktikan bahwa ajaran Islam sangat moderat. Berada pada pertengahan dalam bersikap.

Sebagai contoh aturan bagaimana seorang muslim berlaku pada harta mereka. Terdapat larangan berlebihan dan berlaku boros. Namun dianjurkan untuk banyak bersedekah.

Seperti juga ibadah kurban. Yang meskipun tidak diwajibkan tetapi menjadi bentuk kesyukuran seorang hamba terhadap nikmat yang telah dianugerahkan oleh penciptanya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa ajaran Islam sempurna dan sangat sesuai dengan fitrah manusia. ***

#ForumLingkarPena #FLPSumsel #LampauiBatasmu



Share:

Jumat, 17 Juli 2020

Indonesia Fundraising Award; Pertama Mengapresiasi Lembaga Kemanusiaan di Indonesia

"Insyaallah besok abang berangkat penyaluran donasi," kata suami sesaat setelah sampai di rumah.
"Berapa lama?"
"Dua atau tiga hari. Ada beberapa titik dalam satu kabupaten."


Sejak menikah, suami memang bekerja sebagai social worker. Dapat kabar ia harus keluar kota secara mendadak bukan hal aneh lagi buat saya. Istilahnya tuntuan profesi. Dimana dibutuhkan, ia akan siap menjadi relawan.

Bahkan sampai sekarang, setelah delapan tahun kami menikah, suami masih kerap turun lapangan guna ikut menggalang donasi atau fundraising. Tentu saja, saya sudah sangat akrab dengan ranah sosial kemanusiaan.

Saat membaca undangan untuk para blogger hadir pada acara Indonesia Fundraising Award (IFA) 2020 saya begitu antusias. Event ini pertama di Indonesia sebagai apresiasi bagi lembaga zakat, lembaga kemanusiaan ataupun NGO (Non Goverment Organization) yang diselenggarakan oleh Institut Fundraising Indonesia (IFI).


IFI sendiri merupakan lembaga yang bergerak dalam training fundraising profesional. Dengan komitmen untuk memandirikan NGO Indonesia melalui public fundraising, IFI aktif melakukan berbagai kegiatan dan berjejaring dengan banyak lembaga. 

Menilik hasil penelitian dari Charities Aid Foundation yang dirilis pada awal November 2018 lalu, menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan melampaui Australia dan Selandia Baru. Survei tersebut diikuti 150 ribu orang dari seluruh dunia.

Ada tiga kriteria yang ditetapkan oleh lembaga amal di Inggris itu yakni membantu orang yang tidak dikenal, memberi sumbangan, serta menjadi relawan.

Masyarakat Indonesia dinilai memiliki faktor ‘memberi sumbangan’ yang tinggi. Setidaknya dibuktikan dengan hadirnya berbagai kegiatan galang donasi ketika terjadi bencana atau kasus kemanusiaan.

Antusias masyarakat dalam membantu sesama haruslah diakomodasi oleh lembaga yang profesional dan amanah, tentu saja.

Semakin bertumbuhnya lembaga zakat dan kemanusiaan merupakan sinergi kebaikan. Sehingga semakin luas jangkauan masyarakat yang mendapat kebermanfaatan bantuan.

Sebagai contoh, potensi zakat nasional pada tahun 2020 yang mencapai Rp. 340-an triliun. Pernyataan yang diungkapkan oleh Bambang Sudibyo, ketua Baznas pada Wartawan Februaru 2020 lalu. Namun besarnya potensi zakat nasional belum sepenuhnya bisa dikelola dengan baik. Salah satunya membutuhkan peran aktif lembaga zakat.

Guna memotivasi lembaga zakat dan sosial kemanusiaan melakukan kaderisasi SDM fundraising, maka di ajang Indonesia Fundraising Award menetapkan enambelas kategori penerima penghargaan.

Menurut keterangan panitia, awalnya event ini akan digelar pada Maret lalu. Namun karena kondisi pandemi, maka baru terlaksana pada 9 Juli 2020 melalui daring.

Adapun tim juri terdiri dari  tiga orang yang memang memiliki independensi dan kompetensi. Ketiganya yakni Ahmad Juwaini, direktur KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah), Arlina Fauziah Saliman, Direktur IFI, serta Agus Budiyanto, Direktur Eksekutif Forum Zakat.

"Event ini untuk meningkatkan semangat dan motivasi para pelaku fundraising di lembaga zakat dan lembaga kemanusiaan. Sehingga betul-betul menggelorakan fundraising yang membantu menyejahterakan masyarakat Indonesia,” ungkap Ahmad Juwaini, ketua tim juri pada kata pengantarnya.

Setelah melalui proses setahun sebelumnya, sejak pendataan lembaga, verifikasi berkas, penentuan nominasi hingga penetapan pemenang, akhirnya diumumkanlah para peraih penghargaan IFA 2020. 

Berikut para pemenang IFA 2020.



“Mau lihat gak?” kata saya seraya menyerahkan handphone ke suami.

“Oh kamu ikut acara ini,” komentar suami. Matanya masih lekat menatap layar. Menyimak satu persatu nama lembaga yang mendapat penghargaan. “Wah ada ini,” ia menyebut beberapa nama lembaga dimana ia sering ikut melaksanakan program-programnya.

Selamat dan semoga berkah untuk semua pemenang. Meskipun mendapat penghargaan bukanlah tujuan namun setidaknya dapat menjadi motivasi untuk lebih baik lagi.

Senang sekali saya bisa mengikuti acara Indonesia Fundraising Award 2020. Menambah wawasan sekaligus kebanggaan bahwa ternyata banyak hal sudah dilakukan oleh lembaga zakat dan sosial kemanusiaan di Indonesia.

Sukses untuk Institut Fundraising Indonesia atas event fenomenalnya. Di tahun-tahun mendatang semoga bisa lebih baik lagi dalam pelaksanaan. Dan menjadikan IFA sebagai event bergengsi namun tetap mempertahankan asas kemanfaatan bagi ummat.
***

#IndonesiaFundraisingAward2020
#InstitutFundraisingIndonesia


Share:

Sabtu, 11 Juli 2020

Mewaris Kecintaan pada Laut lewat Bacaan Anak

Teman-teman pernah ke laut?
Buat saya yang lahir dan besar di daerah yang jauh dari laut, pertanyaan tersebut wajib dijawab.

Sedihnya, seumur hidup saya baru sekali ke laut tepatnya tepi pantai. Itu pun saat diajak teman ke Lampung. Ternyata saya kurang piknik 😅

Padahal, luas laut Indonesia 3,25 juta kilometer persegi. Jauh lebih luas dibanding daratan yang hanya 2,01 juta kilometer persegi.


Maka sangat wajar jika kemudian Indonesia dikenal dengan negara maritim. Bahkan Indonesia adalah negara dengan laut terluas di dunia.

Pengukuhan Indonesia sebagai negara maritim termuat pada Unite Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 Pasal 46 dan Pasal 47 ayat 1.

Artinya, sudah sejak awal terbentuknya NKRI, laut memiliki posisi strategis bagi bagi kepulauan nusantara ini. Setidaknya hal tersebut salah satunya dibuktikan dengan majunya perdagangan kerajaan yang ada di nusantara melalui jalur laut.

Lagu Nenek Moyangku Orang Pelaut karya Ibu Soed pada tahun 1940 ingin mengabadikan betapa jiwa laut telah menjadi bagian dari akar sejarah dan budaya bangsa Indonesia. Meski kini lagu tersebut sangat jarang didengar oleh anak-anak generasi alfa. Namun warisan kebanggaan telah tercatat.

Lalu bagaimana mewariskan kecintaan laut pada anak cucu ?
Bahan bacaan boleh jadi menjadi cara efektif. Namun saya belum menemukan buku cerita anak atau bercerita tentang anak dengan tema laut yang cukup melegenda. Atau saya yang memang kurang baca 🤔

Untuk buku bercerita tentang anak meraih cita-cita ada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang diterbitkan tahun 2005. Setidaknya ada satu juta pembaca Laskar Pelangi ditambah 2 juta lainnya pembaca buku bajakannya.


Dan diterbitkan ulang oleh 24 penerbit luar negeri dan hampir rata-rata mendapat sambutan yang luar biasa dari pembaca.
Versi filmnya, Laskar Pelangi telah ditonton 4,6 juta orang dengan pendapatan tertinggi mengungguli film lainnya bertema percintaan. 

Begitu kuat pengaruh novel Laskar Pelangi hingga cukup banyak orang yang akhirnya tergerak untuk melakukan sesuatu untuk dunia pendidikan.

Nah, jika tema pendidikan mampu menjadi begitu fenomenal. Apakah tema laut juga akan bisa fenomenal. Setidaknya mengingatkan kembali bahwa Indonesia adalah negara maritim. Dan generasi muda patut berbagga atas anugera alam tersebut.

Mewariskan cinta pada lautan menjadi penting saat semakin jauhnya anak cucu negeri ini dari tanah dan airnya.
Tidak banyak anak-anak yang masih menikmati bermain di sawah. Pun tidak banyak anak-anak yang bersuka ria menjelajahi laut dan pantai.

Keringnya cinta pada laut berdampak pada ketidakpedulian generasi mendatang atas kondisi laut Indonesia. Mereka tidak merasa memiliki keterikatan emosi. Mereka tidak memiliki kenangan yang indah tentang laut. Akhirnya mereka enggan untuk ikut bertanggungjawab atas laut Indonesia.
Peta laut Indonesia

Tentu saja, upaya mewariskan cinta pada laut tidak hanya bisa dilakukan lewat bahan bacaan. Ada banyak cara. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan secara maksimal, akan lebih baik melakukan banyak cara. Dan bahan bacaan seperti buku cerita anak adalah cara cukup efektif.

Jadi, hingga hari ini saya masih menunggu bahan bacaan anak yang mampu memberi kesan mendalam terhadap betapa indahnya dan luasnya laut Indonesia?

Atau memberanikan diri menulis bacaan semacam itu?
Untuk 'proyek' ini nampaknya saya butuh sering piknik ke laut. Kira-kira kapan ya bisa menjelajah laut Indonesia? 
***
#ForumLingkarPena
#FLPSumsel
#LampauiBatasmu


Share:

Sabtu, 04 Juli 2020

Kreatif dan Produktif Berliterasi di Era Pandemi

Kalau ditanya apa perubahan yang paling dirasakan sejak ada anjuran #dirumahaja?

Kalau saya, total tidak ada lagi agenda keluar rumah. Yap, sejak lebih dari empat bulan lalu, (awal April 2020) semua rencana dan agenda rutin yang mengharuskan keluar rumah ditiadakan.

Inilah pilihan dari hati

Baik yang sifatnya kebutuhan sekunder seperti agenda akhir pekan ke perpustakaan, toko buku, atau taman kota bareng anak-anak. Hingga yang sifatnya kebutuhan primer seperti agenda kajian keislaman atau belanja ke pasar.

Satu dua bulan pertama tentu saja tidak biasa. Bosan. Tapi akhirnya mulai menyesuaikan diri. Waktu yang biasa digunakan untuk agenda keluar bisa dialokasikan guna kegiatan literasi. Membaca buku, menulis, ikut pelatihan atau sejenisnya secara daring.

Seperti diingatkan oleh ketua umum BPP FLP, Afifah Afra, pada silaturahim akbar pengurus FLP teritorial Sumatera beberapa pekan lalu, bahwa banyaknya platfom digital saat ini adalah peluang besar bagi para (calon) penulis untuk semakin produktif berkarya. Kondisi pandemi seharusnya memiliki lebih banyak waktu untuk menulis.

Salah satu keuntungan kondisi pandemi, setiap orang akan memulai dengan kenormalan baru secara bersamaan. Jadi meskipun dia adalah penulis pemula punya kesempatan yang sama untuk berkarya.

Selain keahlian menulis, menurut penulis yang sudah menghasilkan lebih dari 50 judul buku ini, kemampuan digital juga harus dimiliki oleh para anggota FLP seperti publikasi karya di media sosial, branding, blogging, YouTube, postcast, desain, dan sebagainya. Kemampuan ini akan sangat menunjang keberhasilan berkarya berbasis digital.

Mau selalu belajar

Saat mendengar pemaparan mbak Afra ditambah obrolan dari para sesepuh di FLP seperti kak Koko Nata dan Daeng Geerge, saya jadi evaluasi diri sendiri.

Seberapa maksimal sudah memanfaatkan nikmat waktu di masa pandemi ini? Karena tidak ada yang tau persis kapan kondisi ini akan berlangsung. Kalaupun nanti kondisi kembali kondusif, tentu tatanan sosial tidak akan kembali seperti sedia kala. Artinya, mau tidak mau, kita harus mulai menjalankan hidup seperti yang ada saat ini.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan agar tetap bisa produktif berliterasi di era pandemi.

1. Niatkan aktifitas berliterasi sebagai investasi kebaikan jangka panjang. Bukan sekadar mengikuti tren. Ingin numpang terkenal dan berbagai alasan sesaat lainnya.

Ini penting untuk menjaga semangat. Bagaimanapun 'karir' penulis itu butuh ketahanan energi. Perlu terus belajar. Berproses sepanjang waktu.

Saat penulis menulis kebaikan maka sama artinya dengan dai. Saat penulis menulis keilmuan maka sama artinya dengan guru. Betapa tinggi derajat seorang penulis. Sebanding dengan pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

2. Coba kenali potensi diri. Meski di bidang literasi, ada banyak bagian-bagiannya. Misalnya cendrung di puisi, public speaking, bernarasi di blog, menulis kisah, membuat lirik atau lainnya.

Tekuni apa yang menjadi kecendrungan. Jadilah ahli (menuju ahli) di bidang tersebut.

Kalau belum tau potensi, bisa coba banyak hal. Tapi kemudian fokus. Jangan mencoba banyak hal tapi akhirnya tidak ada yang fokus. Mubazir.

Berkali-kali belum berhasil

3. Banyak membaca terkait literasi. Era digital membuat begitu banyak informasi yang bisa didapat. Tidak semua info harus dibaca. Pilih informasi yang memang menunjang potensi kita.

Jangan malas membaca misalnya hasil kajian, artikel, atau mengikuti webinar, diskusi dan sejenisnya. Belajarlah dari banyak orang.

4. Berani mencoba meskipun benar-benar baru di bidang tersebut. Mungkin kita bisa belajar berani dari seorang bayi. Hanya dengan keberanian, bayi akan belajar banyak hal.

Jangan percaya, tidak bisa sebelum mencoba. Jangan putus asa, sebelum berhasil.

Apakah teman-teman sudah pernah berkali-kali mengirim karya ke media dan berkali-kali tidak dimuat?

Apakah teman-teman sudah pernah berkali-kali ikut lomba menulis dan berkali-kali belum menang?

Tau gimana rasanya?

Tanya deh ke saya 😅

5.Sedikit apapun, teruslah melangkah. Mungkin kita bukan the rising star yang begitu memulai langsung melesat, berpijar, dan membuat decak kagum banyak orang. Boleh jadi kita hanya kura-kura yang ingin mengelilingi dunia. Tapi jadilah kura-kura yang pantang berhenti melangkah hingga impian terwujud.

Tidak masalah dengan langkah kecil. Perlahan. Tapi konsisten. Maju terus. Karena kesetiaan pada impian adalah daya juang yang menentukan sebagian besar keberhasilan.

6. Ide bukan dinanti tapi dicari.
Sama halnya dengan hidayah. Berusahalah semaksimal mungkin menciptakan ide-ide kreatif. Pancing otak untuk berpikir. Ciptakan tren baru. Selama apa yang kita ciptakan tidak melanggar syariat, sah-sah saja.

Misalnya menulis cerita, tidak perlu sama sealiran, sefrekuensi. Berani beda itu unik.

Berani mencoba. Berani beda.

7. Ingat,  penulis juga butuh support system yang mendukung. Ada organisasi, ada keluarga, ada teman media sosial, pun ada penggemar.

Sehebat apapun penulis, tidak ada artinya tanpa pembaca. Perlakukan semua dengan friendly. Rendah hati. Ada adab kalau dalam ajaran Islam. Makin merunduk tanda makin berisi.

Akhirnya, pilihan menjadi penulis (penggiat literasi) adalah pilihan sadar setiap individu. Namun alangkah sayangnya jika langkah yang sudah dimulai namun terlalaikan karena ketidakmampuan mengelola waktu atau salah menetapkan tujuan.

Kondisi pandemi bukan untuk diratapi. Tapi sebagai momen berliterasi lebih produktif dan kreatif. Are you ready?

***

#LampauiBatasmu
#ForumLingkarPena
#BloggerFLP
Share:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI