Jumat, 24 April 2020

Berbuat Baiklah, Sekarang Juga!

Hampir pukul 8 malam, saya menemani suami memasuki kantor sebuah surat kabar. Ada janji dengan pimpinan redaksinya. "Kalau deal, besok mau menemui tim dokter," ujar suami.


Anggap saja namanya Diana, remaja yang masih duduk di kelas VIII. Ia menderita kanker hati. Sudah lebih dari sebulan tidak bisa lagi berangkat sekolah.

Meski rumah Diana masih satu desa dengan kami, kami baru mengetahui kondisinya setelah seminggu ia menjalani perawatan di rumah sakit.

Dari penjelasan singkat, dokter menyarankan Diana dirujuk ke RS di Jakarta. Atas pertimbangan biayalah, akhirnya kami berikhtiar menggalang dana lewat kerjasama dengan media cetak di sini.

Esoknya, suami sudah janjian dengan seorang wartawan menemui tim dokter. Draf kebutuhan dana juga sudah dibuat. Berharap satu dua hari lagi Diana akan segera mendapatkan perawatan yang lebih baik.

"Mas, pasiennya sudah meninggal. Jam 8 barusan." Pesan WA suami yang dikirim ke wartawan.

Saya yang mendengar langsung telpon dari ibunya Diana, terdiam. Ada yang langsung berdenyut di hati. Mata saya memanas. Tak kuasa menahan tangis.

Ini bukan perkara tidak menerima ketetapan takdir. Sebab hidup dan mati sudah ditentukan yang Kuasa.

Saya bersedih karena terlambat membantu. Kesempatan berbuat baik terkadang datang hanya sekejap.

"Kalau terdetak dalam hati mau berbuat baik, langsung kerjakan. Jangan ditunda. Nanti nyesel," pesan almarhumah ibu saya puluhan tahun lalu terbayang kembali.

Kebaikan Berbagi

Dari ibu, saya belajar bagaimana ia selalu berusaha berbuat baik untuk orang di sekitarnya. Apapun kondisinya.


Ibu punya dua kebiasaan unik dalam berbagi rezeki  yang selalu ia lakukan.

Ibu selalu membuat cemilan di sore hari. Untuk kami dan membanginya ke tetangga. Misalnya, hari ini Ibu menggoreng pisang satu sisir. Lima atau enam potong akan dintarkan ke tetangga sebelah kanan rumah.

Besok, Ibu memasak bubur kacang hijau seperempat kilo. Semangkuk dikasi ke tetangga sebelah kiri rumah. Lusa, Ibu memasak lepet pisang. Beberapa bungkus dicicipi tetangga belakang rumah. Begitu seterusnya.

Hingga tetangga selingkungan rumah kami sudah pernah semua merasai masakan Ibu. Memang tidak mewah. Biasa saja. Tapi kebiasaan itu bagi saya luar biasa.

Terkadang, saat tidak cukup banyak uang, Ibu hanya bisa memasak pempek gandum. Adonan gandum dicampur air dan garam lalu digoreng. Namun, kondisi ini tidak membuat Ibu berhenti berbagi.

Kebiasaan berbagi lainnya yakni Ibu memberi bahan makan ke empat puluh tetangga sekitar rumah di awal bulan Ramadan. Paket berisi terigu, minyak, gula, dan susu. Kata Ibu, itu untuk bahan makanan berbuka puasa.

Karena penghasilan Bapak sebagai pedagang kaki lima tidak menentu. Ibu berupaya mempersiapkan uang untuk membeli bahan makanan tersebut sejak setahun sebelumnya. Ibu menabung uangnya di lipatan baju paling bawah.

Saya yang ketika itu masih SD ikut sibuk membantu Ibu dan Bapak menimbang, membungkus hingga mengantarkan sedekah ke para tetangga.

Omongi samo Bapak Makmu, Wawak mokase ye,” ujar para tetanga melapas saya pulang seusai menyampaikan sedekah.

Meski rumah kotor karena tumpahan terigu atau gula, yang artinya masih harus bekerja lagi walaupun sudah sangat lelah, Ibu tak putus tersenyum.

“Tidak perlu nunggu jadi orang kaya baru mau bantu orang lain. Bantu saja. Apapun yang bisa kita bagi.” Ibu menatap saya sejenak.  “Tidak perlu nanya, dia butuh atau nggak. Kalau ditanya, orangnya jadi malu.” Ujar Ibu lagi.

Keluarga saya sebenarnya tidak bisa dikatakan berkecukupan. Pas-pasan atau dipas-paskan untuk kebutuhan rumah tangga. Menu langganan hanya seikat sayur dan sepapan tempe atau dua ekor ikan asin. Itu untuk kami berempat  sekeluarga.

Jika dagangan Bapak laku lebih banyak, lauk kami sedikit mewah. Seperempat ikan laut untuk lauk dua kali makan. Tapi jika dagangan Bapak tidak laku, hanya ada nasi dan sambal.

Tapi Ibu tidak pernah tergiur menggunakan uang simpanannya untuk sedekah guna menambah lauk makan kami.

Ibu yang hanya tamatan SD punya gagasan berbagi yang ia contohkan dengan konsisten. Kebiasaan Ibu terpaksa berhenti sejak beliau masuk rumah sakit. Kondisi Ibu terus menurun hingga akhirnya wafat.

“Ibumu itu orang baik. Mau bantu siapa saja yang kesulitan.”
“Kok ya orang baik, matinya cepet.”
“Selama tinggal bertetangga, kami gak pernah denger ribut-ribut, ibumu marah atau bertengkar.”

Meski sangat bersedih atas kepergian Ibu, komentar para tetangga menerbitkan haru yang tak terhingga. Kebaikan berbagi membuat nama harum Ibu di dunia. Semoga juga menjadi wasilah keridhoan Allah terhadap almarhumah.


Dalam Qur'an, bahkan Allah sudah berjanji memberi balasan lebih baik bagi orang yang berbuat kebaikan.

"Bagi orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (QS Yunus; 26)

"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)." (QS Ar Rahman; 60)

Sementara janji Allah itu pasti. Sungguh, tidak ada alasan untuk tidak melakukan kebaikan.


Dompet Dhuafa

Sekarang, untuk bersedekah bisa sangat fleksibel. Sudah banyak lembaga zakat. Termasuk Dompet Dhuafa sebagai pelopor Lembaga Amil Zakat Nasional yang telah berdiri sejak tahun 1993. Ada beragam pilihan jenis layanan dengan berbagai kemudahan.

Jadi kita dapat menyalurkan bantuan baik berupa infaq, zakat, maupun wakaf kapanpun dan dimanapun. Terlebih pada saat ini, di saat wabah covid-19 secara langsung atau tidak mempengaruhi kondisi ekonomi sebagian besar orang di sekitar kita.


Program-program Dompet Dhuafa dirancang berbasis pemberdayaan. Sehingga dana yang terkumpul dari para donatur dapat tepat sasaran dan memberi manfaat berkelanjutan.

Sudah lebih dari 19 juta penerima manfaat. Sebuah capaian yang kian menunjukkan harapan akan perbaikan kehidupan ummat.

“Kalau saja Ibu masih ada, mungkin tiap bulan ia rajin ke kantor DD. Ngasih uang sedekahnya. Sekalian ngobrol sama mbak-mbak yang jaga.” Imajenasi saya demi merindukan sosok dermawan itu.

Saya semakin yakin bahwa kebaikan bisa dilakukan oleh siapapun. Seperti halnya dengan memberi. Tidak perlu menunggu. Lakukan sekarang juga. Sebab kesempatan dan hidayah hanya milik Allah.

Jadi, apa kebaikanmu hari ini?

***

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.”
Share:

2 komentar:

  1. Jadi sedih... Benar sekali, berbuat baik jangan ditunda. Lakukan sekarang juga. Karena kesempatan belum tentu datang lagi. Jangan sampai jadi penyesalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita selalu dapat hidayah agar mampu senantiasa berbuat baik.

      Hapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI