Rabu, 15 April 2020

Kebijakan Pendidikan yang Mendadak Canggih

Sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh World Healt Organization (WHO), berbagai negara telah mengambil kebijakan guna mengatasi wabah covid-19.

Termasuk pemerintah Indonesia yang mengambil kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yakni pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi.

Anak-anak bermain di halaman rumah

Merujuk pasal (1) ayat (11) UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan, PSBB paling sedikit meliputi hal-hal berikut; peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.

Di ranah pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19).

Surat edaran tersebut yang kemudian menjadi rujukan utama bagi kepala daerah yang kondisi di wilayahnya mengharuskan mengambil kebijakan belajar di rumah. Setidaknya ada tiga hal yang harus mendapat perhatian agar kebijakan pendidikan ini tidak hanya terkesan mendadak canggih.

Pertama, ketentuan proses belajar melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberi pengalaman yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Pembelajaran difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup. Ini yang dalam bahasa sederhana cara pelaksanaan atau petunjuk tehnis.

Metode pembelajaran yang kemudian diterjemahkan oleh mayoritas tenaga pendidik sebagai penggunaan fasilitas tehnologi. Hal ini diharapkan meminimalisasi berkumpulnya banyak orang (siswa dan guru). Akan tetapi bukan berarti itu satu-satunya cara.
Tugas dari guru yang dikerjakan di rumah

Cara tradisional masih tetap dapat digunakan semisal membuat semacam selebaran yang dibagikan ke rumah-rumah. Atau membuat pengumuman yang ditempel di sekolah. Secara bergilir wali siswa tiap kelompok atau kelas mengetahui informasi penugasan dari guru. 

Di beberpa hari belakangan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program tayangan 'Belajar dari Rumah' yang bekerjasama dengan TVRI. Tayangan ini cukup membantu perencanaan pembelajaran bagi anak semua jenjang pendidikan. Selain itu relatif memiliki jangkauan pemirsa lebih banyak.

Kedua, tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kemampuan masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. Ini merupakan proses pelaksanaan pembelajaran.

Sudah sangat jelas bahwa menggunakan tehnologi bukan satu-satunya cara. Termasuk juga tidak menyamaratakan tugas antara satu siswa dengan siswa lainnya.

Sepintas memang menjadikan pekerjaan guru semakin bertambah. Akan tetapi secara jangka panjang sebenarnya ini menjadi pengalaman pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi siswa dan guru. Bukankan sejatinya memang tiap anak memiliki gaya belajar berbeda yang tentu seharusnya dilakukan dengan pendekatan yang berbeda pula.

Tanyangan edukasi di TVRI

Ketiga, bukti atau produk pembelajaran dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.  Bagian ketiga adalah hasil pembelajaran.

Jika nilai rapot harus diisi dengan skor, guru dapat menilainya dari awal semester hingga mulai belajar dari rumah. Sebab ketika proses pembelajaran sudah dikembalikan ke rumah, akan banyak variabel yang musti dipertimbangkan untuk mendapat kesamaan standar skor.

Untuk itu, akan lebih bijak jika hasil pembelajaran dari rumah berupa masukan positif dari guru guna perkembangan kecakapan anak.

Bilamana ditelisik lebih saksama, ketiga poin referensi pelaksanaan kebijakan pendidikan di atas merupakan pengembalian makna pendidikan sebagaimana ide luhur Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect), dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakat.

Pendidikan yang berhasil adalah proses menjadikan manusia seutuhnya yang berkembang seimbang pikiran, hati dan jasmaninya. Bukan sebatas angka-angka penilaian di atas kertas.

Pelaksanaan pembelajaran dari rumah saat ini harus diakui tidak ideal. Tidak ada persiapan baik sumber daya manusianya maupun fasilitas yang memadai. Akan tetapi itulah pilihan yang dalam kondisi sekarang masih memungkinkan untuk dilaksanakan.

Dalam waktu serba singkat, segenap elemen civitas akademika harus berpikir cepat mengambil keputusan.
Tentu semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran tidak harus menyalahkan atau merasa paling dibebani dengan kondisi sekarang. Keadaan sulit tidak harus dihabiskan dengan saling mencari kesalahan.

Perang opini di media sosial bahkan media massa. Pun tidak bijak jika pengambil kebijakan memaksakan ketentuan tanpa memahami kesulitan di lapangan.
Kebijakan pendidikan yang dikeluarkan  sebenarnya sangat fleksibel dalam pelaksanaannya. Tidak semata mendadak canggih.

Pihak sekolah serta orang tua dapat bekerjasama mencari cara pembelajaran yang paling tepat ditetapkan bagi anak-anaknya. Untuk itu perlu komunikasi dua arah. Pihak sekolah menawarkan metode pembelajan, orang tua dan siswa dapat memberi masukan. Sehingga tujuan untuk meningkatkan kecakapan siswa sesuai minat dan bakat dapat tercapai.   

***

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI