Minggu, 17 Mei 2020

Seperti Lingkaran, Kebaikan Memberi Pengaruh Kebaikan Juga

Sebelum mematikan handphone, saya sempatkan mengecek kalau ada pesan penting. Sebuah chat dari seorang kerabat. Isinya semacam kisah kebaikan memberi. Karena broadcast seperti itu sudah sering seliweran di grup WA, saya cuek saja. Saya pun tidur.


“Ayo Kak, nasinya dimakan. Nanti keburu adzan,” saya mengingatkan si Sulung yang masih beradabtasi dengan aktifitas sahur.

Saat melihat hidangan di meja, tiba-tiba saya ingat kembali pesan WA semalam. “Mungkin ini tanda,” hati saya berdetak.

Pekerjaan sebagai  buruhlepas tentu membuat keluarganya mengalami kesulitan ekonomi di kondisi sekarang.

Saya bolak-balik menyisir dapur. Memikirkan bahan makanan apa yang bisa saya berikan ke kerabat tersebut. Hanya ada sebungkus terigu yang belum terpakai. Selebihnya tidak ada. Beras, gula, minyak sudah dipakai. Di dompet saya juga tidak tersisa uang bahkan seratus rupiah sekalipun. “Allah... apa yang bisa saya bantu?” Hampir menangis mengadu pada sang pemberi rezeki.

Beberapa hari berlalu. Pagi itu waktu baru menunjukkan pukul 8 pagi kurang. Saya berniat menjemur pakaian saat sebuah mobil memasuki halaman rumah. Seingat saya tidak ada janji ketemu dengan siapapun. Demi mengetahui maksud kedatangan entah siapa, saya berdiri di depan pintu. Menanti sang tamu.

Dua orang lelaki turun dari mobil. Saya mengenal mereka. Salah seorang diataranya relawan sosial. Tak langsung berbicara atau mendekat. Mereka sibuk mengeluarkan barang dari bagasi belakang mobil.

"Ini bantuan untuk ibu," kata salah seorang selepas mengucap salam. Ada sekarung beras. Sepaket sembako serta sebuah amplop.

"Oohh..." Saya bingung harus berkomentar apa. Ada nama lengkap saya di depan amplop. Artinya ini tidak salah alamat. Apa saya harus bertanya, mengapa saya? Atau harus saya terima saja? Atau saya katakan, oh tidak usah, Pak!

"Kami permisi dulu. Masih banyak yang mau diantar."
"Eh iya. Terima kasih."
Mobil melaju. Saya masih terpaku di depan pintu.

Menjelang berbuka puasa, barulah saya berani membuka paket sembako dan amplop tersebut.  Sekarung beras premium. Juga terigu, gula, mentega, vitamin, susu, roti, madu, dan cemilan anak. Sementara amplop berisi beberapa lembar uang ratusan ribu. Masyaallah!

Awalnya saya merasa sedih. Apakah  keluarga saya dinilai kekurangan hingga layak dibantu?
Meski harus melakukan penghematan karena pemasukan yang jauh menurun sebagai dampak pandemi. Rasa-rasanya, kebutuhan dasar kami masih bisa tercukupi. Juga tidak sekalimatpun terucap kata mengeluh yang saya utarakan pada siapapun.

Tapi akhinya saya ingat. “Inilah cara Allah membantu saya untuk bisa membantu orang lain.” Saya  memberikan seluruh uang yang diterima ke kerabat. Juga sebagian sembako.

Sebenarnya ingin sekali ikut ke rumah kerabat tersebut. Berincang, setidaknya mendengar keluh kesahnya agar mengurangi beban hatinya. Namun saya harus bisa menahan diri. Harus #dirumahsaja demi menjaga kemungkinan penyebaran virus covid-19. Sepulang suami dari mengantar 'titipan' itu, ada sekantong buah pemberian keluarga yang kami beri sembako. Alhamdulillah!

Keesokan harinya, suami mendapat telpon dari seorang teman yang mengasuh pesantren tahfidz. Ia meminta tolong untuk menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat sekitar kami.

"Terima kasih, Pak, Bu!" Ucap tiap orang yang datang ke rumah sembari membawa bungkusan.
"Iya, Pak. Semoga titipan ini membawa kebaikan."

Secara berturut-turut, siklus memberi-menerima, saya alami di ramadan kali ini. “Sungguh, begitu indah cara Allah memberi pelajaran pada kami,” gumam hati saya.

Betapa sangat terkenang nasihat  yang disampaikan ustadzah saya. Belasan tahun lalu. Teruslah berada dalam lingkaran kebaikan. Jika kita berniat melakukan kebaikan. Kita akan dipertemukan dengan orang-orang baik.

Saat kita melakukan kebaikan, kebaikan itu akan menular. Semua orang akan ikut melakukan kebaikan hingga kebaikan itu kembali ke diri kita. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.” (QS Al-Isra; 7)

Kebaikan bisa berwujud apa saja. Bantuan dana, tenaga, pemikiran, relasi, nasihat, dan lainnya.
Seperi kondisi saat ini yang tengah dialami bangsa Indonesia bahkan juga di cukup banyak negara di dunia. Pandemi covid-19, secara langsung ataupun tidak memberi dampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Kesulitan pemenuhan bahan makanan, pengangguran, gangguan psikologis, hingga kemungkinan meningkatnya angka kriminalitas.

Tidak ada alasan untuk tidak melakukan sesuatu guna membantu orang lain. Apapun potensi pribadi sejatinya mampu digunakan untuk melakukan kebaikan.
“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) kedalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah; 195)

Berkahnya lagi, bulan Ramadahan nan mulia tahun  ini dijalani bermasaan dengan masa pandemi. Yap, bagi saya ini berkah tersendiri. Di saat begitu banyak peluang melakukan kebaikan bersamaan dengan begitu banyak peluang balasan kebaikan dari Allah.

Membantu saat dibutuhkan, sangat bermanfaat. Membantu saat bulan keberkahan, sangat menguntungkan. Dan keduanya terjadi saat ini. Di masa pandemi saat bulan Ramadhan.

Jika satu orang melakukan kebaikan, akan ada kebaikan terulang di lingkaran kebaikan. Bagaimana jika kebaikan dilakukan bersama? Dilakukan oleh lebih banyak orang? Dilakukan dengan kesamaan tujuan? Tentu saja akan lebih banyak manfaat yang bisa dilakukan.


Untuk itulah hadir lembaga zakat Dompet Dhuafa. Selain mempermudah ummat untuk menyalurkan bantuan, juga mengedukasi masyarakat betapa kebaikan yang dilakukan akan membawa kebaikan bagi diri sendiri. Saya merasa sangat terbantu dengan adanya lembaga zakat. Pemanfaatan dana dari donatur dilakukan dengan berbagai program pemberdayaan. Dan tentu saja amanah dan akuntabel.

"Bunda, uang di atas meja depan untuk aku ya," kata Mush'ab.
"Untuk apa? Kan sudah ada makanan untuk berbuka nanti," jawab saya yang menunggu jenis jajanan apa yang mau ia beli.
"Bukan untuk jajan. Aku mau kumpulin buat sedekah. Boleh kan?"
Saya tertegun. Ada haru yang meruap-ruap. Anak 7 tahun itu memang sudah saya libatkan di setiap proses kebaikan yang kami lakukan.

"Kalau kita ada rezeki, jangan lupa berbagi. Semakin kita memberi, Allah akan semakin sayang." Kata saya mengingatkan anak-anak yang sejatinya mengingatkan diri sendiri. Yok, ciptakan lingkaran kebaikan, agar hidup kita bahagia karena berkah.

***

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Ceritaku dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan.”
Share:

2 komentar:

  1. Luar biasa ceritanya, di jaman sulit seperti ini masih banyak orang baik berbagi. Sehat-sehat selalu kak.

    Ngomong ngomong ikutan lomba blog ini ya, saya juga ikutan, barangkali berkenan mampir ke tulisan saya kak:

    Berbuat Baik Bisa dari Rumah #CeritakuDariRumah

    BalasHapus
  2. masyaAllah selalu ada orang baik di sekeliling kita ya mbak. harus banyak bersyukur, semakin baik kita, insyaAllah selalu ada jalan untuk orang lain berbuat baik pd kita <3

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI