Rabu, 03 Juni 2020

Hikmah Puasa dan Penerapannya di Masa Pandemi

Dalam bahasa Arab, kata puasa merujuk pada tiga kata yakni shoum, syiam, dan al imsak. Secara umum bermakna menahan diri dari melakukan sesuatu. Secara syariat, menurut Imam An Nawawi dalam kitab Al Majmu, puasa menahan secara tertentu, dari sesuatu tertentu, pada waktu tertentu, dan oleh orang tertentu.

Semua ketentuan tersebut dijawab dalam dalil kewajiban puasa yakni Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183-185.

Perintah puasa sebagaimana ayat tersebut dikenakan bagi orang yang beriman. Di hadist Rasulullah didefiniskan iman adalah engkau mengimani Allah, mengimani Malaikat-Nya, mengimani Kitab-kitab-Nya, mengimani para Rasul-Nya, mengimani hari kiamat, mengimani qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk. (HR. Muslim no.102, 108)

Maknanya bahwa perintah puasa hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengakui akan enam perkara tersebut. Pelaksanaan puasa berbanding lurus dengan keimanan.
Meski terlihat berat karena harus melibatkan fisik dengan tidak memenuhi kebutuhannya selama kurang lebih 12 jam, ternyata puasa memiliki banyak hikmah.


Termasuk hikmah dalam hal pembentukan karakter bagi seseorang. Dan karakter ini akan menjadi kebiasaan baik yang selalu diterapkan seorang muslim di seluruh aktifitas kehidupannya.

Hari ini, bangsa Indonesia tengah mengalami ujian besar berupa pandemi covid-19. Bahkan puasa ramadahan 1441 hijriah harus dijalani dengan ketidakpastian kapan masa pandemi akan berakhir.

Pada posisi inilah hikmah puasa ternyata dapat diterapkan oleh seorang muslim dalam menghadapi wabah yang telah menjadi penyebab meninggalkan ratusan ribu orang hampir di seluruh dunia.

Pertama, puasa diperintahkan kepada orang  beriman. Mengimani apapun yang telah menjadi ketentuan Allah. Sebagaimana salah satu pilar keimanan adalah iman pada qadha dan qadar. Takdir baik dan takdir buruk yang sudah ditentukan semunya datang dari Allah. Semua atas izin Allah.

Begitu pula mewabahnya virus corona jenis baru ini yang dalam dunia medis belum ada penelitian sebelumnya. Juga belum diketahui secara pasti sifat serta vaksin untuk mengatasinya.

Meski demikian, sebagai muslim yang memiliki keyakinan bahwa Allah adalah pengatur alam semesta selayaknya mengimani bahwa ada kebaikan yang ingin Allah tunjukkan dengan peristiwa tersebut.

"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." Demikian tertulis di Al-Qur'an surat Ali Imron ayat 119.

Kedua, puasa memiliki tujuan bertaqwa. Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah. Pengertian taqwa dalam kitab Siyar A’lamin Nubala, 8/175.

Wujud ketaqwaan adalah perkataan dan perbuatan yang kesemuanya harus disesuaikan dengan seperangkat aturan Islam. Dan Islam telah mengatur semua sendi kehidupan manusia beserta alam semesta. Maka sudah daat dipastikan bahwa hanya muslim yang taat aturan yang mampu meraih derajat ketaqwaan tersebut.

Dalam kasus pandemi sekarang,  Islam sudah memiliki aturan guna menyikapinya. Sudah ada rujukannya berupa hadist rasulullah. "Tha'un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah swt. untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya. (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Selain tidak melakukan aktifitas keluar tempat tinggal yang dalam istilah dikenal lockdown, umat Islam juga dianjurkan untuk berikhtiar semaksimal mungkin menghindari wabah tersebut. Pihak medis telah memberi informasi berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk setidaknya melindungi diri dari penyebaran virus covid-19.

Memang semua ikhtiar tersebut sangat relatif. Semua takdir seperti poin pertama kembali pada qadha dan qadar Allah. Namun seorang muslim wajib berikhtiar sebagai perantara menjemput kebaikan untuk dirinya.

Ketiga, puasa memiliki rukun yang salah satunya menahan nafsu. Mengendalikan keinginan dari perbuatan yang dapat membatalkan dan merusak puasa. Secara khusus, perbuatan yang membatalkan puasa seperti makan, minum, serta jima'.

Tetapi secara umum, banyak perbuatan yang dapat merusak puasa semisal ghibah, mencuri, perbuatan kriminal, serta semua perilaku buruk dalam konsep Islam.
Tidak hanya sebatas menahan nafsu ketika berpuasa yakni dari terbit fajar hingga waktu magrib, orang berpuasa terlatih menghindari perbuatan yang makruh atau lebih banyak membawa mudharat (keburukan).

Sebagai contoh, tidak makan berlebihan saat berbuka puasa demi menjaga tetap bisa beribadah. Atau meninggalkan perbuatan sia-sia untuk lebih memilih tilawah Qur'an karena memahami kemuliaannya.

Maka sikap mampu mengendalikan nafsu juga penting diterapkan manakala menghadapi kondisi pandemi. Menahan diri dari hal-hal yang dapat memungkinkan kita menjadi terpapar virus. Misalnya pergi ke tempat keramaian, tidak menerapkan pola hidup sehat, dan seterusnya.

Tentu saja hal ini tidak mudah. Terlebih ketika perasaan bosan sudah mulai hadir karena harus membatasi aktifitas dalam waktu cukup lama. Belum lagi keinginan memenuhi banyak kebutuhan yang sebenarnya sekunder di hari raya atau sejenisnya. Menahan nafsu akan menjadi perkara sangat berat.

Tetapi ketika seseorang memahami hakikat puasa, sangat memungkinkan baginya untuk memilih kebaikan meski dengan mengabaikan keinginan sementara. Bukankah keberhasilan berpuasa dinilai dari implementasi sikap keseharian?

Demikian hikmah puasa diantara banyak hikmah lainnya yang sejatinya adalah bekal mental untuk menghadapi masa pandemi.

Sebagai penutup, setiap muslim akan senantiasa percaya akan janji Tuhannya, bersama kesulitan ada kemudahan. Dan puasa ramadahan tahun ini adalah sebenar-benar pembelajaran untuk kita semua. 
Share:

2 komentar:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI