Senin, 29 Juni 2020

Keluarga Harmoni di Era Pandemi

Pernah mendengar istilah ‘perceraian korona’? Sebuah istilah yang menjadi tren di negara Jepang untuk menunjukkan angka perceraian yang meningkat selama periode terjadinya pandemi covid-19.

Jepang, Inggris, Prancis, dan Spanyol merupakan empat negara dengan laporan peningkatan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada catatan WHO sebagaimana ditulis di editorial Media Indonesia pada 16 Mei 2020.

Membangun ketahanan keluarga 

Pada April 2020, KDRT di Spanyol meningkat 60% dibanding pada April 2019. Sementara di Prancis, laporan KDRT naik 2 sampai 3 kali lipat sejak negara tersebut memberlakukan karantina wilayah.

Pada kasus-kasus KDRT, perempuan dan anak adalah pihak yang paling rentan menjadi korban. Dan perceraian adalah pilihan solusi yang dominan terjadi.
Dampak tak langsung pandemi terhadap ketahanan keluarga juga terjadi di negara kita.

Hasil survei daring Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada rentang April hingga Mei 2020 terhadap lebih dari dua puluh ribu keluarga sebagai responden didapati hasil yang memprihatinkan. Ada 95% keluarga yang merasa stres akibat pandemi.

Meski data ini belum bisa mewakili keseluruhan, tapi setidaknya menjadi referensi awal perihal kondisi keluarga kita di masa-masa sekarang. Tidak hanya menjadi permasalahan kesehatan, nyatanya wabah covid-19 juga telah mempengaruhi hampir semua tatanan kehidupan termasuk lingkup terkecil, keluarga.

Pertanyaan yang kemudian hadir adalah apakah fenomena konflik dalam keluarga murni karena ketahanan keluarga yang memang rapuh atau sekadar gangguan psikologis sementara?

Seperti diketahui penyebaran virus corona termasuk cepat dan menyebakan puluhan ribu orang meninggal di banyak negara, termasuk Indonesia.

Karantina, pembatasan sosial, atau apapun konsepnya adalah upaya untuk meminimalisasi korban dengan memutus rantai penyebaran virus. Bekerja, belajar, hingga beribadah ‘wajib’ dilakukan terbatas di rumah masing-masing.

Banyak hal yang mau tidak mau harus berubah mengikuti kondisi darurat. Semua beradaptasi. Bagi sebagian orang yang bisa cepat menyesuaikan diri tentu akan cepat berbenah.

Cara baru berinteraksi

Namun tidak semua orang bisa untuk itu. Bingung. Sedih. Takut. Marah. Kecewa. Beragam emosi negatif menyertai perubahan besar tatanan kehidupan akibat pandemi.

Tekanan ekonomi, hubungan sosial merenggang, keharusan mengurus sekolah anak di rumah merupakan beberapa tumpukan PR yang mesti segera diselesaikan. Padahal, sebelumnya tidak pernah terpikir untuk menghadapi banyak masalah dalam waktu bersamaan. Maka, gangguan psikologis berpeluang menjangkiti masyarakat.

Dalam lingkup keluarga, jika ada satu saja anggota keluarga yang mengalami gangguan psikologis seperti stres maka tentu akan berpengaruh buruk pada pola interkasi yang terjadi.

Terlebih jika yang mengalami stres adalah orang tua. Baik disebabkan faktor eksternal (misalnya tekanan ekonomi) maupun faktor intenal (misalnya perselisihan suami-istri). Pada titik ini, ketahanan keluarga dipertaruhkan.

Tentu saja sebelum kondisi pandemi tidak ada keluarga tanpa masalah. Lalu mengapa di kondisi yang memang darurat, sebuah keluarga harus menyerah dengan masalah yang ada.

Padahal hakikatnya, ada atau tidak ada pandemi, keluarga harus memiliki mental untuk bertahan dan melewati masalah. Dan ini sangat berkaitan dengan fondasi keluarga.

Keluarga yang dibangun atas dasar ibadah maka akan berbeda dengan keluarga yang dibentuk semata oleh keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah kebahagiaan. Bila melihat mayoritas masyarakat Indonesia dengan tingkat ketaatan beragama baik, harusnya darurat pandemi tidak cukup menjadi alasan perselisihan rumah tangga.

Sebaliknya, kondisi sulit diharapkan mampu menguatkan ikatan keluarga. Menghadapi berbagai tantangan dengan membahasnya bersama di ruang keluarga dan dalam suasana keakraban tentu lebih memberi peluang tercapainya solusi.

Pun tentang semakin banyaknya waktu bersama secara fisik dapat dijadikan momen mendampingi ‘tumbuhnya’ jiwa masing-masing anggota keluarga.

Perlu diingat bahwa, setiap orang akan terus bertumbuh dan berubah. Boleh jadi anak yang kita kenal di masa kecil terkesan tertutup. Ketika dewasa menjadi anak proaktif. Proses pertumbuhan jiwa ini tidak akan dipahami jika misalnya orang tua tidak benar-benar mendampingi anak.

Mendampingi tumbuh kembang anak

Atau pasangan hidup yang dulunya dikenal begini, tiba-tiba telah menjadi sosok yang asing jiwanya. Sangat mungkin terjadi bila dalam keluarga proses mendampingi ‘tumbuhnya’ jiwa terlewatkan.

Dan kebersamaan sejatinya adalah ruang paling tepat untuk selalu menyediakan lahir dan batin dalam proses bertumbuh bersama. 

Setelah lebih dari empat bulan dan belum dapat dipastikan kapan berakhir, kondisi pandemi tidak lagi menyisakan waktu untuk bertanya mengapa semua ini terjadi? Bukan hanya satu dua orang tetapi semua mengalaminya.

Ada banyak pilihan bersikap. Tentu saja tidak ada keluarga yang menginginkan menjadi terpuruk. Tetapi bagaimana upaya untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan merupakan perjuangan yang membutuhkan kerjasama semua anggota keluarga.

Akhirnya, ingatlah janji Allah bahwa bersama kesulitan akan ada kemudahan.***

#harikeluarganasional #Harganas2020 #Lindungikeluarga
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI