Senin, 15 Juni 2020

Let's Read, Minat Baca Anak Diawali dari Orang Tua

Membacakan buku ke anak

"Kak, tidurlah. Biar bangunnya tidak kesiangan," entah itu perintah saya yang keberapa.

"Nanti, Nda. Mau baca buku dulu."

"Kan sudah dari tadi baca bukunya. Jadilah. Besok dilanjutkan lagi."

Anak 7 tahun itu tetap belum menerima ide saya. Tapi ia berangsur ke kamarnya dengan membawa buku komik.

Seperti biasa, saya akan menemaninya 10 sampai 15 menit sebelum ia tidur. Saya duduk di pinggir tempat tidurnya sambil membaca ebook dari perpus digital.

Selang beberapa menit saya amati si sulung. Masih membaca.

"Kak, lampu kamar tidak baik untuk membaca," kalimat yang sudah siap saya ucapkan namun gagal. Sudahlah. Saya tidak ingin berdebat lagi. Semoga ia cepat tertidur karena kelelahan.

Dan benar saja, tak sampai 10 menit ia sudah terpejam. Saya ambil bukunya dan mematikan lampu kamar.

Meski terkadang saya harus keras melarangnya membaca, saya sungguh bersyukur Mush'ab sudah memiliki minat baca sejak dini.

Tidak banyak anak, terlebih di lingkungan kami yang punya ketertarikan pada buku. Setidaknya inilah wujud pembiasaan yang memang sudah sejak awal saya dan suami tumbuhkan di rumah.

Lebih berbahagia lagi, kebiasaan membaca buku juga diikuti ketiga adiknya. Membaca buku sudah menjadi pilihan kegiatan yang menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan jalan-jalan atau bermain.

Saya coba merangkum upaya yang telah kami lakukan hingga tertaman kebiasaan membaca pada anak-anak.

Pertama, menjadi teladan orang tua yang mencintai buku

Koleksi buku keluarga

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika di dalam ajaran Islam dianjurkan untuk membacakan Al-Qur'an pada janin dalam kandungan. Ternyata aktifitas tersebut banyak memberi manfaat.

Nah, sama halnya dengan membacakan buku pada anak sejak belum lahir. Baik dari sisi membangun kedekatan orang tua dengan anak. Maupun merangsang kecerdasan bahasa anak. Dan sejumlah manfaat lainnya.

Proses membacakan buku berkelanjutan hingga anak lahir, menjalani usia emas kehidupannya hingga anak mampu membaca buku secara mandiri.

Membacakan buku pada anak maupun orang tua membaca buku sendiri adalah perilaku yang akan terekam dengan baik pada memori anak.

Pada awalnya anak hanya penasaran. Sesekali mendengar dan melihat. Namun akan ada masanya, anak akan mencoba sendiri aktifitas membaca.

Kedua, selalu ajak anak terlibat pada aktifitas membaca

Meskipun saya membaca untuk diri sendiri tapi berupaya untuk setidaknya memberi tahu anak.

"Bunda sedang baca buku tentang mahasiswa yang dapat beasiswa ke luar negeri."
"Bunda baca buku yang kemarin baru beli."
"Bunda mau baca buku digital."
Dan sebagainya.

Atau kalau anak butuh kegiatan, orang tua menawarkan untuk membacakan buku.

"Yok kita baca buku tentang binatang laut. Nanti ada gambar ikan cucut. Ada udang. Ada kepiting. Ada ubur-ubur."

Selama mendampingi anak membaca, orang tua sebisa mungkin interaktif. Memberi penjelasan. Bertanya. Mendengar komentar mereka. Menyanyi bersama sesuai tema di buku. Dan lain sebagainya.
Membaca aktifitas menyenangkan

Kebetulan tiga anak saya belum bisa membaca. Saya biasa membacakan mereka buku. Tapi sesekali mereka membaca sendiri. Bisa? Ya mereka akan menyebutkan nama benda yang ada di gambar buku. Membaca gambar. Atau bercerita sesuai imajenasinya menerjemahkan gambar di buku. Lucu dan unik

Sementara si sulung sudah membaca sendiri.  Tapi ia akan berhenti membaca ketika ada kosa kata yang ia tidak pahami atau ia ingin menyatakan pendapat tentang isi bacaan.

Sebisa mungkin saya menanggapinya. Walau terkadang ia bertanya saat yang tidak tepat. Sedang memasak. Sedang di wc. Sedang mendiamkan adiknya yang menangis.
"Bentar. Bunda selesaikan urusan ini dulu."

Ketiga, disedikan buku yang sesuai segmen anak-anak

Alhamdulillah sejak awal kami memang bertekad untuk mendekatkan buku pada anak-anak. Sejak 4 tahun lalu, kami pun mengelola rumah baca yang diperuntukkan bagi warga sekitar. Ruang depan dan tengah penuh dengan rak buku. Jadi anak-anak cukup punya referemsi bacaan beragam.

Namun bagi keluarga lain minimal menyicil memiliki buku  untuk koleksi perpustakaan keluarga. Tidak perlu buku yang mahal. Bahkan buku yang membelinya pun harus kredit. Bagi saya, terpenting bukunya aman bagi nilai-nilai yang diyakini keluarga.

Kabar baiknya lagi, perkembangan tehnologi telah menawarkan kemudahan membaca dengan adanya ebook. Ada yang harus membeli namun banyak pula yanh dapat dibaca gratis semisal di perpustakaan digital.
Aplikasi Leads Read

Di handphone saya setidaknya ada lima aplikasi perpustakaan digital. Salah satunya yakni Let's Read. Di sini tersedia banyak sekali buku anak. Dengan kisah-kisah menarik dan ilustrasi indah semakin membuat anak senang membaca.

Sesekali saya yang membacakan  buku. Sesekali Mush'ab membacakan untuk adik-adiknya. Untuk mendownload aplikasi Let's Read mudah. Tinggal cari di playstore dan ikuti langkah-langkahnya. Atau klik di sini.

Karena membacanya menggunakan gawai, anak-anak tetap saya batasi. Misalnya sehari dua atau tiga buku saja.

Layanan baca di Let's Read sangat membantu saya dalam memberi alternatif bacaan pada anak. Terlebih di masa pandemi yang acara jalan-jalan ke toko buku praktis belum bisa dilakukan. Sementara anak sudah bosan dengan koleksi buku yang sudah ada. Selain tentu saja wujud ebook memberi pengalaman membaca tersendiri bagi anak-anak.

Keempat, mempraktikan apa yang sudah dibaca

Buku yang baik salah satunya memotivasi anak untuk mengasah kreatifitasnya. Kakak akan memberikan pendapatnya tentang isi buku. Anak nomor dua akan menceritakn ulang isi buku. Anak ketiga dan keempat akan mengingat atau meminta saya menceritakan kembali gambar-gambar di buku.

Jika ada percobaan, mereka akan mencoba melakukannya. Atau ada gambar yang unik, mereka akan menirunya. Dan sebagainya.
Membaca dimana saja

Kelima, jadwal membaca

Karena anak-anak saya sekolahnya masih setengah hari dan belum ada aktifitas rutin lainnya seperti les atau kursus. Bahkan sekarang sekolah dialihkan ke rumah. Maka saya belum membuat jadwal tersendiri untuk membaca. Kapan pun mereka bisa membaca.

Mungkin bagi orang yang tidak terbiasa akan aneh melihat Mush'ab yang bagun tidur dan mau tidur aktifitasnya dibuka dan ditutup dengan membaca buku.

Salah satu kebiasaan unik Mush'ab adalah membaca buku sambil nyemil makanan. Saya sering ribut karena khawatir bukunya akan kotor. Tapi ya... lagi-lagi belum berhasil mendisiplinkannya.

Ini juga menjadi PR saya untuk membuat anak-anak lebih bertanggung jawab pada buku mereka dan hanya membaca di waktu tertentu.

Sejauh ini kami membaca sesering mungkin sesukanya.

Oh iya tentang televisi, sejak masa pandemi kami memang memilikinya. Sebelumnya, dari awal menikah hingga hampir 8 tahun kami sepakat untuk sementara waktu meninggalkan acara televisi.

Salah satu alasan, akhirnya ada tv di rumah karena kebijakan sekolah untuk mengikuti program belajar dari rumah di TVRI. Di luar itu, aktifitas menonton sangat kami batasi.

Setidaknya lima kondisi tersebut yang telah kami kondisikan di rumah guna menumbuhkan minat baca pada anak. Berbahagia karena ternyata anak-anak sudah memiliki kebiasaan membaca buku. Tugas kami kini mengarahkan dan mendampingi kebisaan membaca anak

Nah, demikian pengalaman saya di keluarga. Semoga bisa memberi inspirasi. Berbagai masukan dan cerita teman-teman juga saya tunggu ya.

#menumbuhkanminatbaca #literasikeluarga #letsreadindonesia #ayomembaca
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI