Sabtu, 04 Juli 2020

Kreatif dan Produktif Berliterasi di Era Pandemi

Kalau ditanya apa perubahan yang paling dirasakan sejak ada anjuran #dirumahaja?

Kalau saya, total tidak ada lagi agenda keluar rumah. Yap, sejak lebih dari empat bulan lalu, (awal April 2020) semua rencana dan agenda rutin yang mengharuskan keluar rumah ditiadakan.

Inilah pilihan dari hati

Baik yang sifatnya kebutuhan sekunder seperti agenda akhir pekan ke perpustakaan, toko buku, atau taman kota bareng anak-anak. Hingga yang sifatnya kebutuhan primer seperti agenda kajian keislaman atau belanja ke pasar.

Satu dua bulan pertama tentu saja tidak biasa. Bosan. Tapi akhirnya mulai menyesuaikan diri. Waktu yang biasa digunakan untuk agenda keluar bisa dialokasikan guna kegiatan literasi. Membaca buku, menulis, ikut pelatihan atau sejenisnya secara daring.

Seperti diingatkan oleh ketua umum BPP FLP, Afifah Afra, pada silaturahim akbar pengurus FLP teritorial Sumatera beberapa pekan lalu, bahwa banyaknya platfom digital saat ini adalah peluang besar bagi para (calon) penulis untuk semakin produktif berkarya. Kondisi pandemi seharusnya memiliki lebih banyak waktu untuk menulis.

Salah satu keuntungan kondisi pandemi, setiap orang akan memulai dengan kenormalan baru secara bersamaan. Jadi meskipun dia adalah penulis pemula punya kesempatan yang sama untuk berkarya.

Selain keahlian menulis, menurut penulis yang sudah menghasilkan lebih dari 50 judul buku ini, kemampuan digital juga harus dimiliki oleh para anggota FLP seperti publikasi karya di media sosial, branding, blogging, YouTube, postcast, desain, dan sebagainya. Kemampuan ini akan sangat menunjang keberhasilan berkarya berbasis digital.

Mau selalu belajar

Saat mendengar pemaparan mbak Afra ditambah obrolan dari para sesepuh di FLP seperti kak Koko Nata dan Daeng Geerge, saya jadi evaluasi diri sendiri.

Seberapa maksimal sudah memanfaatkan nikmat waktu di masa pandemi ini? Karena tidak ada yang tau persis kapan kondisi ini akan berlangsung. Kalaupun nanti kondisi kembali kondusif, tentu tatanan sosial tidak akan kembali seperti sedia kala. Artinya, mau tidak mau, kita harus mulai menjalankan hidup seperti yang ada saat ini.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan agar tetap bisa produktif berliterasi di era pandemi.

1. Niatkan aktifitas berliterasi sebagai investasi kebaikan jangka panjang. Bukan sekadar mengikuti tren. Ingin numpang terkenal dan berbagai alasan sesaat lainnya.

Ini penting untuk menjaga semangat. Bagaimanapun 'karir' penulis itu butuh ketahanan energi. Perlu terus belajar. Berproses sepanjang waktu.

Saat penulis menulis kebaikan maka sama artinya dengan dai. Saat penulis menulis keilmuan maka sama artinya dengan guru. Betapa tinggi derajat seorang penulis. Sebanding dengan pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

2. Coba kenali potensi diri. Meski di bidang literasi, ada banyak bagian-bagiannya. Misalnya cendrung di puisi, public speaking, bernarasi di blog, menulis kisah, membuat lirik atau lainnya.

Tekuni apa yang menjadi kecendrungan. Jadilah ahli (menuju ahli) di bidang tersebut.

Kalau belum tau potensi, bisa coba banyak hal. Tapi kemudian fokus. Jangan mencoba banyak hal tapi akhirnya tidak ada yang fokus. Mubazir.

Berkali-kali belum berhasil

3. Banyak membaca terkait literasi. Era digital membuat begitu banyak informasi yang bisa didapat. Tidak semua info harus dibaca. Pilih informasi yang memang menunjang potensi kita.

Jangan malas membaca misalnya hasil kajian, artikel, atau mengikuti webinar, diskusi dan sejenisnya. Belajarlah dari banyak orang.

4. Berani mencoba meskipun benar-benar baru di bidang tersebut. Mungkin kita bisa belajar berani dari seorang bayi. Hanya dengan keberanian, bayi akan belajar banyak hal.

Jangan percaya, tidak bisa sebelum mencoba. Jangan putus asa, sebelum berhasil.

Apakah teman-teman sudah pernah berkali-kali mengirim karya ke media dan berkali-kali tidak dimuat?

Apakah teman-teman sudah pernah berkali-kali ikut lomba menulis dan berkali-kali belum menang?

Tau gimana rasanya?

Tanya deh ke saya 😅

5.Sedikit apapun, teruslah melangkah. Mungkin kita bukan the rising star yang begitu memulai langsung melesat, berpijar, dan membuat decak kagum banyak orang. Boleh jadi kita hanya kura-kura yang ingin mengelilingi dunia. Tapi jadilah kura-kura yang pantang berhenti melangkah hingga impian terwujud.

Tidak masalah dengan langkah kecil. Perlahan. Tapi konsisten. Maju terus. Karena kesetiaan pada impian adalah daya juang yang menentukan sebagian besar keberhasilan.

6. Ide bukan dinanti tapi dicari.
Sama halnya dengan hidayah. Berusahalah semaksimal mungkin menciptakan ide-ide kreatif. Pancing otak untuk berpikir. Ciptakan tren baru. Selama apa yang kita ciptakan tidak melanggar syariat, sah-sah saja.

Misalnya menulis cerita, tidak perlu sama sealiran, sefrekuensi. Berani beda itu unik.

Berani mencoba. Berani beda.

7. Ingat,  penulis juga butuh support system yang mendukung. Ada organisasi, ada keluarga, ada teman media sosial, pun ada penggemar.

Sehebat apapun penulis, tidak ada artinya tanpa pembaca. Perlakukan semua dengan friendly. Rendah hati. Ada adab kalau dalam ajaran Islam. Makin merunduk tanda makin berisi.

Akhirnya, pilihan menjadi penulis (penggiat literasi) adalah pilihan sadar setiap individu. Namun alangkah sayangnya jika langkah yang sudah dimulai namun terlalaikan karena ketidakmampuan mengelola waktu atau salah menetapkan tujuan.

Kondisi pandemi bukan untuk diratapi. Tapi sebagai momen berliterasi lebih produktif dan kreatif. Are you ready?

***

#LampauiBatasmu
#ForumLingkarPena
#BloggerFLP
Share:

6 komentar:

  1. Keren...setia pada impian adalah daya juang penentu keberhasilan..

    BalasHapus
  2. Dapat ilmu banyak nih. Makasih mba umi

    BalasHapus
  3. Selalu bisa memberikan cambuk semangat lewat tulisannya, terima kasih Mbak Umi. Sekarang saya sedang berusaha di poin ke tiga 😁.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akan lebih baik lagi, seusai dapat ilmu bisa langsung ditulis sebagai catatan sekaligus belajar menulia

      Hapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI