Sabtu, 28 November 2020

Mendampingi Anak Belajar di Era Pandemi


Tahun ajaran baru 2020/2021 hampir rampung pada semester pertama. Itu artinya sudah lebih dari empat bulan anak-anak melakukan pembelajaran jarak jauh.

Tentu saja ada kesan berbeda yang dirasakan anak. Terlebih bagi anak yang tahun ini adalah tahun pertama masuk sekolah. Atau belum ada pengalaman sebelumnya merasakan pergi ke sekolah. 

Kesan yang berbeda juga dirasakan orang tua. Tantangan mendampingi anak belajar di era pandemi akan menjadi pengalaman luar biasa. Karena bagaimanapun juga keterlibatan orang tua sangat dirasakan saat ini. 

Berbahagia sekali saya di hari ini diberi kesempatan oleh TKIT Bina Ilmi Lemabang berbagi pengalaman dengan para orang tua siswa dan guru dalam proses pendampingan belajar anak. 

Jadi memang pola pembelajaran di era pandemi BERBEDA dengan pola pembelajaran di era normal.

Ada beberapa perbedaannya, yakni:

1. Interaksi dengan sekolah dan semua civitas akademika (teman, guru, pegawai, pedagang, wali siswa, dll.)

Ketika anak pergi ke sekolah maka ia akan menjumpai dan bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang sosial dan usia. 

Semakin luas lingkup interaksinya tentu membawa pengalaman semakin banyak pada anak.

Ini yang dirasakan jika anak pergi ke sekolah. Sementara di era pandemi yang mengharuskan belajar di rumah serta sesekali saja atau untuk kepentingan sangat mendesak bisa datang ke sekolah, interaksi dengan segenap civitas akademika tidak dirasakan anak.

2. Pengalaman sosial sepanjang pergi dan pulang sekolah

Misalnya anak yang diantar orang tua ke sekolah dengan menggunakan transportasi umum, ia akan melihat atau berinteraksi dengan bermacam orang. Bisa sopir angkot, sopir online, pramugara, dan sebagainya. 

Anak yang diantar orang tua menggunakan kendaraan pribadi, mungkin akan bertemu petugas pom bensin, penjual koran, petugas parkir, pengemis dan sebagainya. 

Nah, pengalaman sosial ini sejatinya mampu memperkaya wawasan anak serta menumbuhkan empati. Namun lagi-lagi pengalaman ini didapat ketika anak pergi ke sekolah.

3. Memanfaatkan tehnologi 

Dikarenakan tidak memungkinkan bertatap muka maka fasilitas tehnologi digunakan. Tentu saja ini harus cepat dikusai khususnya bagi orang tua dan guru. 

Tujuannya agar proses pembelajaran tetap dapat dilakukan meski dengan segala keterbatasannya. 

4. Kegiatan di luar jam sekolah

Meskipun siswa TK belum memiliki kegiatan ekstrakurikuler seperti siswa SD dan seterusnya, ada kegiatan non formal yang biasa dijalani anak ketika sekolah secara normal. 

Misalnya bermain bersama teman sebelum masuk kelas. Atau melakukan aktifitas bersama karena kebetulan belum dijemput pulang oleh orang tua. 

Berbagai perbedaan di atas akan menjadi sumber masalah tersendiri bila tidak segera dicari solusinya. Minat anak untuk sekolah menjadi pertimbangan penting.

Pendampingan Orang tua

Mungkin kita semua masih ingat ketika di awal pandemi sekitar bulan Maret dan April. Banyak pihak yang merasa kaget. Kelelahan fisik dan psikis sehingga menyebabkan saling menyalahkan.

Guru dipusingkan dengan mencari metode pembelajaran.

Orang tua dipusingkan dengan media pembelajaran yang beralih ke virtual.

Pihak sekolah bingung menerapkan kebijakan. 

Namun, semakin ke sini, kondisi pembelajaran sudah semakin membaik. Berbagai adaptasi sudah dilakukan. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, semua pihak juga sudah mulai menikmati pola pembelajaran di era pandemi.

Ada beberapa hal mendasar yang penting disadari orang tua agar dapat nyaman mendapingi anak di masa sekarang

1. Memahami kondisi ini darurat. Sadari bahwa tidak ada seorang pun atau pihak manapun yang menginginkan keadaan seperti sekarang yakni pembatasan aktifitas di luar rumah termasuk bersekolah.

2. Memahami perbedaan pola pembelajaran. Karena kondisi berbeda maka cara yang dilakukan juga berbeda. Tidak bisa lagi misalnya orang tua mengantar anak ke sekolah lalu setelahnya bisa dengan tenang bekerja. Sekarang anak bersekolah dari rumah dan harus didampingi. 

3. Menerima dan berhenti mengeluhkan kondisi. Penerimaan akan membuat perasaan orang tua lebih ringan. Bahwa semua orang tua juga mengalami hal yang sama. 

4. Mencari cara paling nyaman antara anak dan orang tua. Karakter tiap anak berbeda. Dibutuhkan pendekatan yang juga berbeda. Gaya belajar anak juga tidak sama. Dan orang tua wajib mengetahui semua hal tentang anak sebagai referensi menentukan kondisi paling santai ketika menjalani proses pembelajaran. 

Contoh kecilnya adalah untul bangun pagi karena jadwal sekolah virtualnya pagi. Ada anak yang bisa bangun hanya diberi tahu akan sekolah. Ada juga yang butuh waktu bermain sebentar sebelum mandi, dan sebagainya. 

Fakta di lapangan ketika melakukan pendampingan

Mencoba kebiasaan baru memang tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Begitu pula orang tua yang mendampingi anak belajar.

1. Keterbatasan waktu orang tua, terlebih bagi yang kedua orang tuanya bekerja di luar rumah. 

Ini bisa diantisipasi dengan membuat kesepakatan orang tua (ayah dan ibu) serta anak. Termasuk juga pembagian peran. 

Misalnya karena ibu waktu di pagi hari lebih fleksibel maka yang menemani pertemuan di kelas virtual Ibu. Sementara ayah akan mendampingi pemgerjaan tugas rumah atau proyek anak.

Kalau ternyata ayah dan ibu benar-benar kesulitan waktu di kelas virtual anak, coba didelegasikan pendampingan pada keluarga lainnya. Bisa nenek-kakek, saudara yang lebih tua, atau lainnya. Bahkan bisa juga mengupayakan pergantian jam kerja ayah atau ibu.

2. Penguasaan tehnologi dan ketersediaan sarana prasarana media daring

Seperti di bahas di awal bahwa tehnologi banyak dimanfaatkan ketika proses pembelajaran jarak jauh. 

Baik guru maupun orang tua diharapkan dapat cepat belajar dan beradabtasi dengan penggunaan berbagai tehnologi. Beberapa aplikasi yang dominan dipakai misalnya google meeting, zoom meeting, video call untuk pertemuan.  Ada juga kine master, picart, power point, snapsheet dan lainnya untuk media pembelajaran.

Meluangkan waktu dan dana untuk mempelajari berbagai perangkat dan aplikasi tersebut. Termasuk juga perangkat kerasnya semisal menggunakan headset, tripot, tongsis, dan lainnya. 

Selain belajar otodidak, bisa melalui berbagai pelatihan atau workshop yang banyak di selenggarakan berbagai pihak. 

Saling diskusi dan berbagi pengalaman dengan sesama wali murid bisa juga dilakukan. Hal yang paling sederhana misalnya tehnis penyimpan data video pembelajaran agar rapi namun tidak memenuhi ruang penyimpanan. 

4. Motivasi belajar anak

Akan sangat wajar anak usia TK kisaran 5 dan 6 tahun masih labil dengan emosinya. Bisa jadi sangat antusias. Lain kesempatan malas dan mogok belajar. Terlebih pertemuan kelas menggunakan 'hanya' sekadar video call. 

Kondisi ini bisa diantisipasi dengan kreativitas orang tua dan guru. Ciptakan suasana yang sama meriah dan menyenangkan seperti di ruang kelas sekolah. Membuat kesepakatan dengan anak terkait jadwal bermain, makan, serta istirahat. 

Guru juga bisa membantu membuat anak termotivasi belajar misalnya dengan mengunakan kostum lucu dan mencuri perhatian anak ketika kelas virtual. Lalu mengembalikan konsentrasi anak lewat  berbagai permainan atau ice breaking. 

Intinya anak usia TK masih sangat tergantung dengan keberadaan orang tuanya. Guru di sekolah sebisa mungkin membuat anak nyaman sebagaimana orang tua. Proses peralihan orientasi dari orang tua ke guru perlahan dinikmati anak lewat belajar di sekolah meski secara virtual. 

Akhirnya, semoga kondisi pandemi semakin membuka ruang kedekatan anak dan orang tua lewat belajar dari rumah. Juga membuka ruang kreatifitas guru agar anak tetap mendapat kesan sekolah adalah pengalaman menyenangkan.



#sesiparenting #pendampingananak #kerjasmaorangtuaguru #sekolahmenyenangkan


 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI