Selasa, 10 November 2020

Sepatu Boots dan Kisah Masa Kecilku

Lahir sebagai anak sulung dan tinggal di daerah cukup jauh dari kota membuat saya merasa puas menjelajah alam. Saya lahir di daerah yang terkenal dengan cadangan batubara berlimpah. Tanjung Enim. Bahkan perusahaan pengolahan batubara pun berdiri di sini. 

Saya masih ingat saat ikut ibu ke pasar. Setiap pulang dapat dipastikan kaki kami berdebu dan berwarna hitam akibat melewati hamparan luas batubara. Kebutuhan memasak juga menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. 

Diluar keberkahan tinggal di daerah penghasil batubara, ada juga cerita sedihnya. Areal makam kakek dan nenek saya sempat dikabarkan akan dibongkar karena akan diambil batubara yang ada didalamnya. 


Tetapi itu semua tidak terlalu merisaukan. Sebab sebagai anak-anak, saya sudah merasa bahagia jika bisa menghabiskan banyak waktu untuk bermain. 

Hanya berkelang sebuah kebun, dibelakang rumah kami terdapat aliran sungai. Tidak terlalu besar memang. Namun sangat memanjakan anak-anak di sekitarnya. Airnya sangat bening. Udang yang berenang di sela batu pun dapat terlihat. Debit airnya rendah. Banyak bebatuan besar dan kecil sepanjang sungai. Airnya sangat sejuk. 

 Setiap sore anak-anak selalu ramai di sungai. Beberapa orang dewasa juga mandi dan mencuci di sungai. Bagi anak yang bernyali, ia akan terjun dari tempat tinggi sebelum berenang. Sayangnya, saya tidak pernah berani melakukannya. Saya cukup berjalan pelan menuju air sungai yang setinggi pinggang. Tidak lebih dalam dari itu. Boleh jadi inilah alasan hingga sekarang saya tidak bisa berenang. 

Selain bermain air, di sungai ini, saya dan teman-teman suka mencari udang, ikan dan kepiting. Biasanya kami menggunakan serokan kecil untuk menangkap buruan. 

Aktifitas di sungai hanya boleh dilakukan saat sungai surut. Sebab saat musim penghujan atau volume air meningkat, tidak ada orang tua yang mengizinkan anaknya bermain di sungai. 

Luas sungai mungkin sekitar 10 meter. Sementara panjangnya saya tidak pernah tahu. Menurut orang-orang tua, sungai tersebut akan terhubung dengan sungai muara enim.


Untuk menghubungkan sebelah kanan dan sebelah kiri dibangun sebuah jembatan melintas di atas sungai. Jembatan ini terbuat dari lempengan seng bekas. Setahu saya, jembatan tersebut sudah ada sebelum saya lahir. Entah siapa yang memberi nama. Jembatan ini dikenal dengan jerambah gombreng karena saat dilintasi orang, akan mengeluarkan bunyi gombreng-gombreng karena seng yang bersentuhan.

Lapangan bola kaki ada di seberang sungai. Maka setiap jadwal pertandingan bola, kami akan berduyun-duyun melewati jerambah gombreng. 

 Selain lapangan bola, tidak ada rumah penduduk disana. Yang ada kebun masyarakat sekitar. Seperti paman saya yang memiliki kebun sayuran. Sesekali saya ikut ke kebun paman. 

Ketika melihat paman memakai sepatu boots ke kebun, membuat saya juga ingin memiliki sepatu boots. Dalam penilaian saya, seseorang yang memakai sepatu boots terlihat lebih gagah.  

Tentu saja ibu saya harus menyisihkan uang belanja beberapa hari demi membelikan sepatu boots. Sampai akhirnya sebuah sepatu boots anak-anak berwarna biru berhasil dibeli ibu. Di suatu sore, saat pertandingan bola di lapangan, saya memakai sepatu boots tersebut. 

Sorak sorai penonton memberi semangat pada pemain. Anak-anak yang hanya tahu 'gol' juga ikut bersorak. Pertandingan seru. Hampir penuh selingkaran lapangan, para penonton duduk menyaksikan. 

Hampir magrib saat pertandingan usai. Semua bubar, penonton dan pemain. Dan semua akan melewati jerambah gombreng. Saya dituntun ibu melewati jembatan. Suara gombreng tak berhenti. Saling bersahutan. 

Meski sudah biasa melewatinya, banyak orang yang juga lewat jembatan menbuat saya sedikit takut. 'Nanti jembatannya putus," demikin pikiran saya. 

"Buuu... sepatuku jatuh!" Teriak saya seraya pandangan tak lepas dari sepatu boods yang terjatuh. 

"Waduh, sepatunya nganyut," kini ibu yang panik. Bapak yang dapat komando langsung berupaya menyelamatkan. Arus sungai yang cukup deras menyulitkan Bapak untuk mendapatkan kembali sepatuku.

Berakhir sudah kisah sepatu boots. Hanya satu kali itu saya memakainya. Namun kenangannya hingga puluhan tahun tidak terlupakan. 


Share:

1 komentar:

  1. Kalau renang, Vita cuma bisa satu gaya. Yaitu, gaya batu. 😂

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI