Rabu, 31 Maret 2021

Novel Ramah Perbedaan tanpa Mengaburkan Keyakinan

Perjalanan kepenulisan seorang Azzura Dayana bisa dibilang sudah cukup panjang. Ia lahir dari seleksi editor satu penerbitan ke penerbitan lainnya. Sesekali juga teruji lewat kompetisi menulis berskala nasional. Bahkan novel pertamanya, Alabaster, adalah pemenang III Sayembara Novel Islami Gema Insani tahun 2004.

Awal tahun 2021 ini, Azzura kembali menerbitkan novelnya yang juga hasil kompetisi. Novel I Love View (ILV) adalah peraih Special Award pada Kompetisi Menulis Indiva 2020.

Bagi pembaca karya Azzura tentu sudah bisa menebak kekhasan setiap novelnya. Perjalanan. Baik perjalananan fisik dan bisa pula perjalanan batin. Seperti penuturan penulisnya saat bedah novel ILV yang dilaksanakan oleh FLP Wilayah Sumsel pada Februari lalu bahwa bagi seorang penulis sebisa mungkin mengabadikan setiap perjalanannya dalam karya. Ini adalah sumber ide yang potensial dituliskan.


Begitulah ILV lahir dari
traveling penulisnya ke dua negara tetangga. Singapura dan Malaysia. Meski ada beberapa tempat dalam novel yang pada faktanya belum dikunjungi secara langsung, setidaknya secara umum, Azzura bisa menangkap 'aura' latar tempat di novelnya. Bagi saya, ini salah satu keunggulan ILV. Mampu mendeskripsikan tak hanya deretan nama-nama tempat wisata tetapi juga menghadirkan rasa pada tiap tempat yang disinggahi.  Bukan sekadar buku panduan wisata.

Hal yang juga istimewa adalah kemampuan penulis menjalinan tiap adegan menjadi alur penuh kejutan. Nyaris tidak ada kejadian yang terlewat begitu saja. Tone bercerita terasa cepat dan padat. Anti bosan.

Namun demikian, setelah menyelesaikan ILV, saya langsung teringat Altitude 3159: Miquelii. Novel dari penulis yang sama yang terbit selang satu tahun sebelumnya (September 2019) Kedua novel ini mengisahkan seorang perempuan dewasa yang melakukan perjalanan ke suatu tempat karena sedang mengalami permasalahan.

Karena persamaan premis ini, saya menilai secara umum ILV dan Altitude 3159 relatif sama. Hal ini sangat mungkin terjadi karena proses penulisannya hampir berdekatan waktu. Terlebih ILV memang harus diselesaikan mengikuti jadwal deadline lomba. Jika saja dijeda sedikit lebih lama, mungkin ada ide segar untuk I Love View.

Di luar konten novel, tampilan novel juga menjadi perhatian pembaca secara keseluruhan. Seperti yang pernah saya tulis di ulasan singkat pada akun instagram bahwa cover novel setebal 231 hslaman ini juara. Kesan feminis dan elegan begitu kuat  menyapa pembaca. Really, I Love It!

Sayangnya desain isi tidak cukup nyaman. Pilihan ukuran font huruf nampaknya terlalu besar. Karena ini novel dewasa, bukan buku cerita anak, mungkin bisa lebih dipadatkan tampilannya.  

“Lihatlah. Segalanya dengan cepat berubah. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah, persiapkan hatimu. Aku tahu Seon baik. Dan dia sangat perhatian padamu. Dia juga toleran. Tapi, dia belum melihatmu yang sekarang. Kamu berbeda.” (hlm. 228)

Dengan plus-minus-nya ILV, saya sebenarnya sangat terkesan dengan ending yang ditawarkan penulis. Perbedaan keyakinan antar tokoh bisa dikemas apik tanpa memberi kesan menyinggung SARA. Di tengah gencarnya isu toleransi, literasi Indonesia butuh lebih banyak karya yang ramah perbedaan tanpa mengaburkan makna istiqomah.  Selamat!***


Identitas Buku

Judul buku: I Love View

Penulis: Azzura Dayana

Penerbit: Indiva Media Kreasi

Halaman: 231 hlm.

Harga: Rp.65.000,-


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI